Ternyata lagi-lagi saya ketinggalan yang satu ini, big buck bunny adalah sebuah film animasi 3 dimensi open source yang dibuat menggunakan perangkat open source juga, blender. Film ini dibuat oleh sebuah tim kecil dari blender community yang berkumpul di sebuah studio di Amsterdam untuk mengerjakan proyek “peach” ini. Hasilnya sangat memuaskan, film animasi 3D lucu ini tidak kalah kualitasnya dengan film-film animasi 3D masa kini lainnya.
Sesuai tujuan awalnya yaitu membuat film 3D open source, source dari film ini dapat diperoleh di repository, sehingga para seniman 3D dapat mempelajari atau menggunakan kembali kode program dari film animasi ini dengan satu syarat, tetap memberi attribute pada blender foundation atau bigbuckbunny.org.
Satu lagi masterpiece dari Open Source Software, membuktikan bahwa produk yang berkualitas tidak harus mahal. Versi Online dari film ini sudah dirilis sejak Mei lalu, dirilis dalam berbagai resolusi dan format (termasuk format iso DVD), coba kunjungi bigbuckbunny.org. Berikut ini film Big Buck Bunny streaming (tentunya low quality) di YouTube.
Belakangan ini sedang marak pemberitaan mengenai razia perangkat lunak bajakan yang dilakukan oleh kepolisian di Indonesia, khususnya di Jakarta. Sebagian hanya isapan jempol, sebagian lainnya tampak bahwa pemerintah benar-benar serius menghadapi pembajakan yang telah hidup puluhan tahun lamanya di negara kita tercinta ini.
Perhatian pemerintah terhadap pembajakan perangkat lunak perlu diacungi jempol. Sampai kapan Indonesia mau belajar untuk menghargai jika bahkan perangkat lunak buatan dalam negeri saja masih juga dibajak. Sebagian besar peserta sebuah forum pun malah memandang miring razia itu. Coba anda pikir lagi, terlepas dari apa niat pemerintah dan kepolisian dari razia tersebut, toh pembajakan itu tetap perbuatan yang salah, mengapa dibela mati-matian?
Saya sudah lama menggunakan telkomspeedy untuk koneksi internet di rumah. Biasanya, saya menggunakan layanan personal (1Gb) dirasa sudah cukup berlebih hanya untuk menjelajah web dan mengunduh untuk berkas dan perangkat lunak berukuran kecil hingga sedang. Tentu saja keinginan untuk mengunduh citra distro-distro linux gratis harus dipendam dalam-dalam, lebih baik ditunda untuk mengunduh di kantor, dengan konsekuensi harus menunggu lebih lama karena berebut dengan hampir seluruh karyawan kantor.
Saya kesulitan menemukan judul yang tepat untuk jurnal ini, tapi intinya adalah bagaimana caranya menemukan pada interface mana suatu outlet jaringan atau kabel terhubung pada cisco switch.
Idealnya, ketika suatu infrastruktur jaringan dibangun, kabel-kabel ditarik, outlet ditanam, dan switch dipasang, begitu pula penomoran outlet seharusnya dilengkapi. Dengan begitu dunia akan menjadi lebih indah bagi administrator jaringan. Namun apa yang terjadi bila kita tiba-tiba menghadapi suatu hutan belantara, kabel disana sini tanpa kejelasan di interface mana dia terkoneksi di switch. Masalah bertambah lagi ketika kita dihadapkan pada jaringan kantor yang menerapkan virtual LAN, kabel harus terpasang pada interface yang sesuai agar komputer atau perangkat end-user dapat berfungsi dengan benar.
Menggunakan windows dan debian bersama dalam laptop ekonomis -acer aspire 3684- saya ternyata perlu sedikit tuning agar os menunjukkan waktu yang benar di kedua sistem operasi.
Linux mengenal 2 jenis jam, yaitu jam hardware dan jam sistem (kernel). Jam hardware berfungsi agar sistem operasi dapat memberikan informasi waktu yang benar bahkan ketika komputer baru dinyalakan. Ini disebabkan jam hardware tetap terus aktif bahkan ketika komputer dalam keadaan mati, dan bahkan ketika laptop dalam keadaan tanpa baterai. Itu karena jam hardware hidup dari baterai yang sama untuk mendukung hidupnya BIOS. Jam sistem adalah jam yang menunjukkan waktu saat kita menggunakan komputer. Normalnya, setiap sistem operasi akan mengatur jam sistemnya dengan mengambil informasi waktu dari jam hardware saat boot, dan akan menyimpannya kembali ke jam hardware ketika sistem dimatikan.
Sudah lama saya tidak ke BEC (Bandung Electronic Center), dan terakhir ke sana pintu masuk parkir masih dioperasikan oleh manusia. Kini, pelanggan yang memasuki area parkir disuguhkan sebuah mesin berbentuk persegi tinggi sekitar 1 meter dengan tombol merah dan biru. Entah apa gunanya tombol merah, tapi disitu terpampang pesan bahwa saya harus menekan tombol biru. Berselang sekitar satu detik setelah tombol biru ditekan, keluarlah tiket parkir yang hanya berisi sedikit informasi, yang menonjol hanyalah sebuah barcode disana untuk dipindai di pintu keluar.