Manusia obat

November 5th, 2006 by bayu

Saya sedang sakit, sepertinya flu, tapi tanpa batuk dan pilek. Seluruh badan, terutama di sendi-sendi linu. Pandangan banyak ‘semutnya’ (entah mengapa selalu terjadi di saat saya demam, ada dokter yang bisa menjelaskan?).

Saya manusia dengan ketergantungan pada obat-obatan. Semua orang sudah memperingatkan, tapi tetap saja saya bandel, saya paling tidak tahan seharian meringkuk saja di tempat tidur.

Selama kepala tidak pusing, sakit di badan tidak dirasa. Kerja ya kerja saja, ngantor jalan terus, biar dikata badan lemah, terjang saja. Jika perlu, hajar dengan obat flu, biasanya saya pakai Panadol Cold & Flu. Jika sakit kepala yang bukan migrain mulai mengganggu, hajar dengan Panadol Extra.

Saya lebih sering migrain daripada sakit kepala biasa, mungkin karena siklus hidup yang kacau. Saya tidak pernah mau tidur sebelum jam 12 malam. Jika migrain mulai tak tertahankan, hajar dengan Neuralgin bungkus lama, niscaya beberapa menit saja langsung hilang. Semua orang memperingatkan saya soal obat ini, tapi apa boleh dikata, saya paling tak tahan migrain.

mydrugs Tenggorokan mulai terganggu, tapi belum sampai batuk. Kalau sudah mulai mengganggu atau batuk, hajar saja dengan Obat Batuk Hitam, OBH. Saya minum dengan cara seperti minum Aqua botol, di-glek. Saat tenggorokan sakit mulai mengganggu, hajar dengan Lemocin atau F.G troches. Saat pernapasan sudah mulai sesak karena asthma kambuh, hajar dengan Bronsolvan.

Saya tidak peduli dengan diare. Kata salah satu dokter yang saya temui, diare memang sebaiknya “dikeluarkan” karena itu adalah proses alami tubuh untuk membuang racun-racun. Tapi di waktu-waktu tertentu, disaat diare sudah mulai benar-benar mengganggu, hajar dengan Diatabs.

Vitamin bukan obat. Saya punya vitamin, Enervon-C dan Berocca. Adik ipar memperingatkan saya soal bahaya Berocca, saya percaya saja, jadi Berocca dibiarkan jadi hiasan. Enervon-C hanya diminum saat tidak enak badan, tapi bukan karena tidak mampu membelinya, melainkan memang tidak pernah ingat saja. Mungkin perlu saya gantung di depan monitor supaya ingat.

Orang bilang obat adalah racun. Ya jelas saja, minum obat kan memasukkan berbagai zat-zat dalam tubuh. Tubuh tidak selalu tahan terhadap zat-zat dalam setiap obat, karena itu hampir selalu ada peringatan pemakaian di setiap kemasan obat. Selama ini saya kurang peduli dengan peringatan ini. Sepertinya harus mulai peduli. Sudah terlalu banyak racun di tubuh saya.

Posted in the moment | 4 Comments »

4 Responses to “Manusia obat”

  1. amellie  Says:

    waduh, saya kebalikannya malahan! :D gak mau minum obat ampe bener2 sakit. Batuk or pilek pun saya gak mau minum obat. Kalo badan udah panas, baru deh minum :D

    anyway, get well soon :)

  2. MaIDeN  Says:

    Makan suplemen yang mengandung echinaceae dhy

  3. Fanny Nasril  Says:

    Nah, Bay…sekarang baru aku buka nih blog mu…

    Aku gak ngikutin blogmu lho…

    Tapi fotonya emang sama (objeknya foto) tapi pan isinya beda…

  4. muis  Says:

    Sebagaimana saya ketahui dari Buku “Hindari Ketergantungan Obat” bahwa migrain juga
    disebabkan adanya penurunan tingkat elastisitas, densitas, struktur otot, sensifitas
    saraf dan kurang lancarnya aliran darah.
    Namun penyembuhannya dengan menormalisasi proses reaksi yang terjadi dalam tubuh secara
    maksimal. Untuk lebih jauh, silakan kunjungi http://www.sembuhalami.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>