PakDe Berpulang

October 4th, 2006 by bayu

Hari Senin malam, 2 Oktober 2006, ibu saya menerima kabar dari Jakarta bahwa ada kemungkinan pakde saya menginggal. Setelah beberapa jam, baru dapat konfirmasi bahwa beliau memang benar sudah berpulang.

Kebetulan memang hari Selasa ini saya mengambil day-off, sehingga saat sahur, saya langsung menawarkan pada ibu dan bapak untuk langsung melayat ke Jakarta. Istri saya izin tidak masuk kerja hari itu, untung atasannya baik, tanpa dialog, hanya lewat sms beliau langsung memberikan izin.

Pagi buta, setelah subuh, kami berempat langsung berangkat, dan sampai di rumah duka sekitar pukul delapan pagi. Rumah Pakde di Pondok Indah, saya menemukan fenomena yang baru. Biasanya saya temukan jika ada yang meninggal, rumah dipenuhi oleh tetangga dan kerabat. Sebagian kerabat belum datang, wajar karena tempat tinggal kami berjauhan, dan kemungkinan besar banyak yang baru berangkat setelah melaksanakan sahur. Namun anehnya saya tidak melihat ada tetangga yang hadir.

Kakak saya sudah sampai lebih dahulu di rumah duka, karena dia paling dekat, tinggal di Rawamangun (rawamangun-pondok indah, lewat tol dalam kota). Kakak menceritakan bahwa dia terkejut ketika datang, suasana sangat sepi. Tidak ada tetangga yang menjenguk apalagi membantu. Namun sepertinya fenomena ini bukan suatu hal yang mengejutkan. Ketika saya menceritakannya pada mertua saya, beliau hanya bilang “ya memang biasa begitu bay…”.

Menjelang siang, keluarga dari luar kota mulai berdatangan. Rekan-rekan kerja almarhum dan anak menantunya juga mulai memenuhi ruangan dan serambi. Saya sendiri berada di dalam dekat jenazah, sambil membacakan beberapa ayat suci. Jenazah belum dimandikan. Sekitar pukul sembilan, pengurus jenazah dari Yayasan Pesantren Islam Al-Azhar datang untuk membantu prosesi rukun jenazah.

Saat itu adalah kali pertama saya berani dengan seksama memperhatikan prosesi ketika kerabat saya dikafani. Pengurus sudah ahli dalam memotong-motong kain kafan, hanya dengan tangan kosong, baik mengukur hingga merobeknya. Tata caranya mengkafaninya sama dengan yang saya temukan di sini. Saat almarhum sedang dikafani, ayah mertua saya mengatakan sesuatu pada saya, yang sepertinya tidak akan pernah saya lupakan, “bayu, kamu lihat, nanti kita akan dibegitukan juga, jangan pernah kamu bilang kamu tidak akan mengalami hal itu”. Pernyataan yang simpel, agak wagu, namun benar-benar mendalam.

Menyaksikan prosesi mengurus jenazah, dari memandikan, mengkafani, menyolatkan, hingga menguburkan adalah salah satu hal yang dapat mengingatkan kembali pada kita, sebagai manusia biasa yang pasti akan kembali pada Sang Khalik.

sumber lain : shalat jenazah – tausyiah275

Posted in the moment | 2 Comments »

2 Responses to “PakDe Berpulang”

  1. Tausyiah275  Says:

    semoga amal kebaikan pakde anda diterima ALLOH SWT, dan kesalahan2nya dihapus, aamiin :)

  2. amellie  Says:

    innalillahi wa innailaihi rajiun… semoga Allah SWT menempatkan PakDe di sisi yang terbaik :)

Leave a Reply